Rabu, 11 Agustus 2021

PEREMPUAN PAPUA DALAM MENGEJAR IMPIAN


Oleh: Amsal Ilindamon
   Setiap orang mempunyai impian yang harus terpenuhi dalam hidupnya, termasuk perempuan Papua. Beragam cara untuk mengejar impian, ada yang berupaya untuk melamar kerja sebagai PNS, jika dia mau maka saat itu juga prosfesi ini bisa dia jalankan, dan mulai detik itu pula dia sudah memiliki sebuah profesi sebagai seorang pegawai negeri. Ada yang ingin eksis di ruang kerja sebagai bussness woman, ada yang ingin eksis di ruang publik sebagai pekerja sosial, atau dibidang spiritual sebagai hamba Tuhan dan ada yang ingin eksis di dunia politik.
    Sebagai manusia normal, perempuan Papua juga tentu memiliki kesempatan untuk mengejar impiannya, sebab impian merupakan barang yang sangat diinginkan, melalui impian mereka dapat menyatakan eksistensinya. Maka impian pun bisa juga berarti kerinduan yang terdalam yang sanggup memenuhi pikiran secara individu untuk dikejar. Dipenuhi, digenapi, dan dicapai adalah hak bagi kaum perempuan Papua. Saat melakukan atau memenuhi hasrat tersebut tentu perempuan Papua akan merasa hidup bergairah, bersemangat dan bersukacita.
    Sebaliknya jika keinginan tidak terpenuhi, maka terasa selalu ada yang kurang dari dirinya, merasa tak ada ruang demokrasi bagi kaum perempuan dan merasa tidak adil serta tidak senang dan tidak bahagia karena belum mencapai apa yang ia inginkan.
   Sebagian perempuan Papua belum memenuhi impian atau keinginannya, bisa jadi hal itu disebabkan, pertama, belum ada ruang atau akses, walau pun sudah ada undang-undang yang memberikan ruang untuk menjamin hak-hak perempuan, tetapi dalam kenyataannya perempuan Papua masih jauh dari harapan, kedua, hak-hak kaum perempuan tidak sama dengan hak-hak kaum laki-laki. Ketiga, pola pikir kaum Adam yang menganggap kaum Hawa di Papua hanyalah ibu rumah tangga yang bisanya memasak, mengurus anak dan suami
    Akan tetapi prinsip tersebut sudah benar? Bukankah perempuan Papua juga sudah Tuhan memberikan talenta yang harus digunakan dalam hidupnya untuk menjadi berkat bagi sesama orang lain di ruang publik?, jelas bahwa hal itu tidak bisa dibatasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar